Sabtu, 31 Agustus 2013

komunitas ASEAN 2015




 
SIAPKAH INDONESIA DALAM MENYONGSONG KOMUNITAS ASEAN 2015?
Komunitas ASEAN: Sebuah Integritas
Komunitas ini berawal dari keputusan para kepala negara pemerintah dalam suatu pertemuan di Singapura pada tahun 2006 yang memutuskan bahwa pada tahun 2015 ASEAN telah terbentuk Komunitas ASEAN, yaitu komunitas ekonomi, sosbud, dan polkam. Hal tersebut diilhami oleh berdirinya Uni Eropa yang mampu melakukan integrasi antar negara di benua biru tersebut dalam segala hal, persamaan mata uang, kebijakan politik, keamanan, dan ekonomi. Apakah ASEAN  dapat melakukan hal serupa? pertanyaan yang terlalu eksplisit.
Jika dilihat dari sudut pandang kuantitas, saya menyakini bahwa hal tersebut bisa saja terjadi. Karena negara anggota ASEAN berjumlah lebih sedikit dari pada anggota Uni Eropa. Hal ini tentunya lebih memudahkan pelaksanaan integritas tersebut di kawasan Asia Tenggara. Selain efisien dan efektif, ASEAN akan lebih mudah untuk pengambilan keputusan karena sedikitnya anggota. Pengambilan keputusan ini seyogyanya tidak memerlukan waktu yang terbelit-belit. Sehingga bisa mempercepat proses integritas antar negara anggota ASEAN. Jika dilihat dari sudut pandang kualitas, saya masih meragukan pembentukan komunitas ini. Mengapa demikian? karena masyarakat anggota ASEAN memiliki budaya dan cara sosial yang berbeda-beda. Banyak masyarakat – terutama masyarakat pedalaman – yang tidak tahu tentang negara anggota ASEAN lainnya. Tetapi jika dilihat kondisi sekarang ini yang serba internet, saya yakin bahwa pembentukan Komunitas ASEAN tersebut bisa terlaksana pada tahun 2015.  
Indonesia dan Karakteristik Pemudanya
Pembentukan Komunitas ASEAN pada tahun 2015 ini bertujuan supaya masyarakat antar negara anggota organisasi sub-regional di Asia Tenggara tersebut punya suatu komitmen yang sama dan bisa saling menguntungkan antar negara anggota. Komitmen yang sama inillah yang menjadi tugas besar bagi Indonesia untuk mewujudkannya. Dengan mayoritas jumlah penduduk yang berusia produktif atau pemuda, saya yakin bahwa Indonesia bisa mewujudkan Komunitas ASEAN ini pada tahun 2015.
Telah diketahui bersama bahwa mayoritas penduduk Indonesia merupakan pemuda. Dalam masa usia produktif, mereka diharapkan membawa Indonesia berubah lebih baik. Perubahan inilah yang diragukan oleh para pakar dikarenakan masih adanya perilaku-perilaku yang perlu dibenahi, diantaranya adalah perilaku meniru. Meskipun perilaku ini bisa merubah sesuatu, tetapi perilaku ini dihilangkan secara bertahap. Indonesia memerlukan sesuatu yang baru yang diciptakan sendiri oleh pemuda-pemudanya. Sehingga timbul suatu jati diri bangsa yang benar-benar dari penduduk pribumi. Jati diri tersebut saya anggap penting dan sangat diperlukan oleh Indonesia dalam menyongsong  pembentukan Komunitas ASEAN 2015 dan bisa memperbaiki citra Indonesia dimata negara-negara ASEAN lainnya. Citra yang baik akan menguntungkan Indonesia dalam berbagai aspek, mulai dari ekonomi, politik, sosial, dan kebudayaan.
Selain perilaku meniru, perilaku yang lebih mengkhawatirkan ialah perilaku instan atau serba cepat. Perilaku ini sangat berdampak negatif bagi pemuda Indonesia. Karena daya nalar dan daya pikir mereka dirampas secara lembut oleh perilaku ini. Hal ini tentunya menjadi momok tersendiri bagi bangsa ini. Perilaku instan ini seyogyanya dihilangkan supaya daya nalar dan pikir para pemuda Indonesia bisa lebih berkembang yang kemudian nantinya akan siap dalam pembentukan Komunitas ASEAN 2015.
Tentunya disamping dua hal negatif tersebut, para pemuda Indonesia mempunyai kreatifitas yang tinggi, sebagai buktinya ialah kota Bandung. Kota kembang tersebut terkenal dengan distro-distro yang menyediakan pakaian anak muda. Dengan modal keyakinan para pemuda di kota kembang ini mulai melebarkan sayap usahanya. Dengan melihat keadaan tersebut, saya yakin bahwa Indonesia bisa mewujudkan Komunitas ASEAN 2015 dengan kreatifitas para pemudanya.
Terlepas dari penjelasan diatas, pemerintah Indonesia tidak bisa mengeluarkan perintah kepada para pemuda dan masyarakat secara mendadak. Perlu pendekatan-pendekatan secara intim supaya seluruh masyarakat bisa memahami dan melaksanakan tentang Komunitas ASEAN 2015. Kemudian pemerintah harus bisa memfasilitasi kreatifitas para pemuda dan masyarakat Indonesia. Supaya Indonesia bisa membentuk komunitas ini dengan baik.
Kekuatan Indonesia dalam Pembentukan Komunitas ASEAN 2015
            Indonesia merupakan negara kepulauan terbesar di dunia yang otomatis membuatnya mempunyai keragaman suku, budaya, adat istiadat. Keragaman inilah yang akan menjadi kekuatan Indonesia dalam Komunitas Sosial Budaya. Bidang sosial misalnya, Indonesia mengenal istilah gotong royong. Sikap saling membantu tersebut bisa menjadi percontohan bagi negara anggota ASEAN lainnya. Selain itu, masyarakat Indonesia dikenal sebagai individu yang ramah dan humanis. Sehingga dengan beberapa sikap positif yang dimiliki oleh masyarakat Indonesia, bisa memudahkan dan menguntungkan Indonesia dalam pembentukan Komunitas Sosial. Budaya Indonesia juga tidak kalah pentingnya dalam pembentukan Komunitas ini. Dikenal dengan keluhuran dan kearifan masyarakat lokalnya, Indonesia mampu menghipnotis masyarakat dunia untuk mengunjungi negeri ini. Hal ini tentunya akan mendukung pembentukan Komunitas ASEAN 2015.
            Dalam Komunitas Ekonomi, Indonesia juga mempunyai kekuatan yang cukup kuat. Kekuatan tersebut berasal dari para pengusaha kecil menengah hingga kelas tinggi. Sektor usaha kecil menengah telah berkembang baik di beberapa pelosok desa. Meskipun belum merata di seluruh wilayah Indonesia, tetapi usaha kecil menengah ini menjadi pertanda baik berkembangnya perekonomian di negeri ini. Demikian juga di sektor pengusaha kelas tinggi yang mengalami perkembangan cukup baik. Banyak investor lokal maupun asing yang sudah menanam modal mereka untuk perkembangan ekonomi Indonesia.
             Salah satu hal pokok dalam Komunitas ASEAN 2015 adalah Komunitas Politik dan Keamanan. Dalam kurun waktu ini keadaan politik dan keamanan di Indonesia memang masih labil. Tentunya ini menjadi sebuah pekerjaan rumah bersama antara masyarakat dan pemerintah. Dengan adanya komunitas ini tentunya Indonesia bisa menerapkan strategi jitu yang telah diterapkan oleh para negara anggota ASEAN lainnya. Sehingga keadaan politik dan keamanan di Indonesia bisa menjadi stabil. Selain itu menghargai orang lain sangat diperlukan untuk menjaga kestabilan negara. Kerusuhan Poso misalnya, mereka bentrok hingga membunuh satu sama lain hanya karena salah paham. Jika timbul permasalahan selesaikanlah dengan cara bermusyawarah. Hal itu lebih baik dari pada menciptakan kerusuhan yang menimbulkan masalah baru dalam masalah.
Strategi dan Rekomendasi
            Tinggal dua tahun lagi waktu yang dibutuhkan Indonesia untuk realisasi Komunitas ASEAN 2015. Dua tahun menurut saya bukan waktu yang lama lagi bagi Indonesia jika dilihat secara geografisnya. Indonesia mempunyai banyak pulau kecil yang harus dijamah supaya mereka juga merasakan dampak pembentukan komunitas ini. Sosialisasi secara intensif sangat diperlukan, jika diperlukan setiap desa di Indonesia ada satu hingga lima orang relawan. Relawan ini tentunya dikarantina terlebih dahulu supaya mereka bisa menyampaikan secara detail tentang Komunitas ASEAN 2015. Lebih jelasnya bisa dilihat bagan berikut ini.    
                                            
Selain relawan, masyarakat kurang memahami dan menguasai bahasa asing terutama bahasa Inggris. Bahasa internasional ini akan membantu masyarakat Indonesia dan masyarakat para anggota ASEAN lainnya dalam berkomunikasi. Melihat keadaan seperti ini perlunya intensitas pembelajaran bahasa Inggris harus dilakukan. Tidak hanya di lembaga formal saja, pembelajaran ini bisa dilakukan di lembaga non-formal. Pare Kabupaten Kediri misalnya, di tempat ini terdapat banyak sekali lembaga kursus bahasa Inggris. Pemerintah bisa melakukan kerja sama dengan beberapa lembaga di kampung Inggris tersebut. Bentuk kerja sama tersebut ialah pengiriman masyarakat, khususnya relawan ke kampung ini untuk mempelajari bahasa Inggris. Pengiriman ini tentunya tidak melibatkan seluruh masyarakat tetapi hanya perwakilan saja dan atau relawan. Perwakilan dan atau relawan inilah yang mengajarkannya kepada masyarakat melalui yasinan, arisan, dan sebagainya.
Strategi lainnya yang bisa dilakukan oleh pemerintah adalah memasukkan informasi semua tentang pembentukan Komunitas ASEAN 2015 ke seluruh handphone, tablet, laptop, notebook, maupun gadget lainnya. Kerja sama antara pemerintah dengan produsen gadget tersebut harus dilakukan. Sistemnya ialah informasi tersebut muncul setiap gadget tersebut dinyalakan. Tentunya didesain semenarik mungkin supaya pengguna gadget tersebut tertarik dan membacanya.  
Hal yang paling penting dalam kesuksesan pembentukan Komunitas ASEAN 2015 adalah kerja sama antara masyarakat dengan pemerintah serta semua elemen yang ada. Tanpa adanya kerja sama yang solid, pembentukan komunitas tersebut tidak akan berjalan dengan baik. Kemudian selain kerja sama tersebut pembentukan undang-undang khusus yang membahas Komunitas ASEAN saya anggap diperlukan. Hal tersebut diperlukan supaya komunitas ini dapat payung hukum dan masyarakat tidak takut lagi dengan komunitas ini.

daftar rujukan:
http://hazpohan.blogspot.com/2010/09/menyongsong-pembentukan-komunitas-asean.html