SIAPKAH INDONESIA DALAM MENYONGSONG
KOMUNITAS ASEAN 2015?
Komunitas ASEAN: Sebuah
Integritas
Komunitas ini berawal dari keputusan
para kepala negara pemerintah dalam suatu pertemuan di Singapura pada tahun
2006 yang memutuskan bahwa pada tahun 2015 ASEAN telah terbentuk Komunitas
ASEAN, yaitu komunitas ekonomi, sosbud, dan polkam. Hal tersebut diilhami oleh
berdirinya Uni Eropa yang mampu melakukan integrasi antar negara di benua biru
tersebut dalam segala hal, persamaan mata uang, kebijakan politik, keamanan,
dan ekonomi. Apakah ASEAN dapat
melakukan hal serupa? pertanyaan yang terlalu eksplisit.
Jika dilihat dari sudut pandang
kuantitas, saya menyakini bahwa hal tersebut bisa saja terjadi. Karena negara anggota
ASEAN berjumlah lebih sedikit dari pada anggota Uni Eropa. Hal ini tentunya
lebih memudahkan pelaksanaan integritas tersebut di kawasan Asia Tenggara.
Selain efisien dan efektif, ASEAN akan lebih mudah untuk pengambilan keputusan
karena sedikitnya anggota. Pengambilan keputusan ini seyogyanya tidak
memerlukan waktu yang terbelit-belit. Sehingga bisa mempercepat proses
integritas antar negara anggota ASEAN. Jika dilihat dari sudut pandang
kualitas, saya masih meragukan pembentukan komunitas ini. Mengapa demikian?
karena masyarakat anggota ASEAN memiliki budaya dan cara sosial yang
berbeda-beda. Banyak masyarakat – terutama masyarakat pedalaman – yang tidak
tahu tentang negara anggota ASEAN lainnya. Tetapi jika dilihat kondisi sekarang
ini yang serba internet, saya yakin bahwa pembentukan Komunitas ASEAN tersebut
bisa terlaksana pada tahun 2015.
Indonesia dan Karakteristik
Pemudanya
Pembentukan Komunitas ASEAN pada tahun
2015 ini bertujuan supaya masyarakat antar negara anggota organisasi
sub-regional di Asia Tenggara tersebut punya suatu komitmen yang sama dan bisa
saling menguntungkan antar negara anggota. Komitmen yang sama inillah yang
menjadi tugas besar bagi Indonesia untuk mewujudkannya. Dengan mayoritas jumlah
penduduk yang berusia produktif atau pemuda, saya yakin bahwa Indonesia bisa
mewujudkan Komunitas ASEAN ini pada tahun 2015.
Telah diketahui bersama bahwa mayoritas
penduduk Indonesia merupakan pemuda. Dalam masa usia produktif, mereka
diharapkan membawa Indonesia berubah lebih baik. Perubahan inilah yang
diragukan oleh para pakar dikarenakan masih adanya perilaku-perilaku yang perlu
dibenahi, diantaranya adalah perilaku meniru. Meskipun perilaku ini bisa
merubah sesuatu, tetapi perilaku ini dihilangkan secara bertahap. Indonesia
memerlukan sesuatu yang baru yang diciptakan sendiri oleh pemuda-pemudanya. Sehingga
timbul suatu jati diri bangsa yang benar-benar dari penduduk pribumi. Jati diri
tersebut saya anggap penting dan sangat diperlukan oleh Indonesia dalam
menyongsong pembentukan Komunitas ASEAN
2015 dan bisa memperbaiki citra Indonesia dimata negara-negara ASEAN lainnya.
Citra yang baik akan menguntungkan Indonesia dalam berbagai aspek, mulai dari
ekonomi, politik, sosial, dan kebudayaan.
Selain perilaku meniru, perilaku yang
lebih mengkhawatirkan ialah perilaku instan atau serba cepat. Perilaku ini sangat
berdampak negatif bagi pemuda Indonesia. Karena daya nalar dan daya pikir mereka
dirampas secara lembut oleh perilaku ini. Hal ini tentunya menjadi momok
tersendiri bagi bangsa ini. Perilaku instan ini seyogyanya dihilangkan supaya
daya nalar dan pikir para pemuda Indonesia bisa lebih berkembang yang kemudian
nantinya akan siap dalam pembentukan Komunitas ASEAN 2015.
Tentunya disamping dua hal negatif
tersebut, para pemuda Indonesia mempunyai kreatifitas yang tinggi, sebagai
buktinya ialah kota Bandung. Kota kembang tersebut terkenal dengan
distro-distro yang menyediakan pakaian anak muda. Dengan modal keyakinan para
pemuda di kota kembang ini mulai melebarkan sayap usahanya. Dengan melihat
keadaan tersebut, saya yakin bahwa Indonesia bisa mewujudkan Komunitas ASEAN
2015 dengan kreatifitas para pemudanya.
Terlepas dari penjelasan diatas,
pemerintah Indonesia tidak bisa mengeluarkan perintah kepada para pemuda dan
masyarakat secara mendadak. Perlu pendekatan-pendekatan secara intim supaya
seluruh masyarakat bisa memahami dan melaksanakan tentang Komunitas ASEAN 2015.
Kemudian pemerintah harus bisa memfasilitasi kreatifitas para pemuda dan
masyarakat Indonesia. Supaya Indonesia bisa membentuk komunitas ini dengan
baik.
Kekuatan Indonesia
dalam Pembentukan Komunitas ASEAN 2015
Indonesia merupakan negara
kepulauan terbesar di dunia yang otomatis membuatnya mempunyai keragaman suku,
budaya, adat istiadat. Keragaman inilah yang akan menjadi kekuatan Indonesia
dalam Komunitas Sosial Budaya. Bidang sosial misalnya, Indonesia mengenal
istilah gotong royong. Sikap saling membantu tersebut bisa menjadi percontohan
bagi negara anggota ASEAN lainnya. Selain itu, masyarakat Indonesia dikenal
sebagai individu yang ramah dan humanis. Sehingga dengan beberapa sikap positif
yang dimiliki oleh masyarakat Indonesia, bisa memudahkan dan menguntungkan
Indonesia dalam pembentukan Komunitas Sosial. Budaya Indonesia juga tidak kalah
pentingnya dalam pembentukan Komunitas ini. Dikenal dengan keluhuran dan
kearifan masyarakat lokalnya, Indonesia mampu menghipnotis masyarakat dunia
untuk mengunjungi negeri ini. Hal ini tentunya akan mendukung pembentukan
Komunitas ASEAN 2015.
Dalam Komunitas Ekonomi, Indonesia
juga mempunyai kekuatan yang cukup kuat. Kekuatan tersebut berasal dari para
pengusaha kecil menengah hingga kelas tinggi. Sektor usaha kecil menengah telah
berkembang baik di beberapa pelosok desa. Meskipun belum merata di seluruh
wilayah Indonesia, tetapi usaha kecil menengah ini menjadi pertanda baik
berkembangnya perekonomian di negeri ini. Demikian juga di sektor pengusaha
kelas tinggi yang mengalami perkembangan cukup baik. Banyak investor lokal
maupun asing yang sudah menanam modal mereka untuk perkembangan ekonomi
Indonesia.
Salah satu hal pokok dalam Komunitas ASEAN
2015 adalah Komunitas Politik dan Keamanan. Dalam kurun waktu ini keadaan
politik dan keamanan di Indonesia memang masih labil. Tentunya ini menjadi sebuah
pekerjaan rumah bersama antara masyarakat dan pemerintah. Dengan adanya
komunitas ini tentunya Indonesia bisa menerapkan strategi jitu yang telah
diterapkan oleh para negara anggota ASEAN lainnya. Sehingga keadaan politik dan
keamanan di Indonesia bisa menjadi stabil. Selain itu menghargai orang lain
sangat diperlukan untuk menjaga kestabilan negara. Kerusuhan Poso misalnya,
mereka bentrok hingga membunuh satu sama lain hanya karena salah paham. Jika
timbul permasalahan selesaikanlah dengan cara bermusyawarah. Hal itu lebih baik
dari pada menciptakan kerusuhan yang menimbulkan masalah baru dalam masalah.
Strategi dan
Rekomendasi
Tinggal dua tahun lagi waktu yang
dibutuhkan Indonesia untuk realisasi Komunitas ASEAN 2015. Dua tahun menurut
saya bukan waktu yang lama lagi bagi Indonesia jika dilihat secara
geografisnya. Indonesia mempunyai banyak pulau kecil yang harus dijamah supaya
mereka juga merasakan dampak pembentukan komunitas ini. Sosialisasi secara intensif
sangat diperlukan, jika diperlukan setiap desa di Indonesia ada satu hingga
lima orang relawan. Relawan ini tentunya dikarantina terlebih dahulu supaya
mereka bisa menyampaikan secara detail tentang Komunitas ASEAN 2015. Lebih
jelasnya bisa dilihat bagan berikut ini.

Selain relawan, masyarakat
kurang memahami dan menguasai bahasa asing terutama bahasa Inggris. Bahasa internasional
ini akan membantu masyarakat Indonesia dan masyarakat para anggota ASEAN
lainnya dalam berkomunikasi. Melihat keadaan seperti ini perlunya intensitas
pembelajaran bahasa Inggris harus dilakukan. Tidak hanya di lembaga formal
saja, pembelajaran ini bisa dilakukan di lembaga non-formal. Pare Kabupaten
Kediri misalnya, di tempat ini terdapat banyak sekali lembaga kursus bahasa
Inggris. Pemerintah bisa melakukan kerja sama dengan beberapa lembaga di
kampung Inggris tersebut. Bentuk kerja sama tersebut ialah pengiriman
masyarakat, khususnya relawan ke kampung ini untuk mempelajari bahasa Inggris.
Pengiriman ini tentunya tidak melibatkan seluruh masyarakat tetapi hanya
perwakilan saja dan atau relawan. Perwakilan dan atau relawan inilah yang mengajarkannya
kepada masyarakat melalui yasinan, arisan, dan sebagainya.
Strategi lainnya yang bisa dilakukan
oleh pemerintah adalah memasukkan informasi semua tentang pembentukan Komunitas
ASEAN 2015 ke seluruh handphone, tablet, laptop, notebook, maupun gadget lainnya. Kerja sama antara
pemerintah dengan produsen gadget
tersebut harus dilakukan. Sistemnya ialah informasi tersebut muncul setiap gadget tersebut dinyalakan. Tentunya
didesain semenarik mungkin supaya pengguna gadget
tersebut tertarik dan membacanya.
Hal yang paling penting dalam kesuksesan
pembentukan Komunitas ASEAN 2015 adalah kerja sama antara masyarakat dengan
pemerintah serta semua elemen yang ada. Tanpa adanya kerja sama yang solid,
pembentukan komunitas tersebut tidak akan berjalan dengan baik. Kemudian selain
kerja sama tersebut pembentukan undang-undang khusus yang membahas Komunitas
ASEAN saya anggap diperlukan. Hal tersebut diperlukan supaya komunitas ini
dapat payung hukum dan masyarakat tidak takut lagi dengan komunitas ini.
daftar rujukan:
http://hazpohan.blogspot.com/2010/09/menyongsong-pembentukan-komunitas-asean.html

